•  
  • creative gbis kepunton website team
Beranda » RUBRIK UMUM » Penutupan, Pengrusakan, Dan Atau Pembakaran 374 Gereja Di Indonesia Tahun 1945 - 1997
Senin, 30 Agustus 2010 - 09:40:04 WIB
Penutupan, Pengrusakan, Dan Atau Pembakaran 374 Gereja Di Indonesia Tahun 1945 - 1997
Diposting oleh : Administrator
Kategori: RUBRIK UMUM - Dibaca: 16528 kali

Penutupan, Pengrusakan, Dan Atau Pembakaran 374 Gereja Di Indonesia Tahun 1945 - 1997

 

Pendahuluan

Negara Republik Indonesia (RI) diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah dikuasai pemerintah Kolonial Belanda selama 350 tahun dan Jepang selama 3 tahun (1942-1945).

Negara RI mempunyai satu falsafah Negara, yaitu Pancasila yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Negara RI terdiri dari lebih 13.000 pulau yang terletak di sepanjang garis Khatulistiwa dan di antara 2 benua; Asia dan Australia serta di antara 2 samudra; Pasifik dan Indonesia. Dari 13.000 pulau tersebut, di antaranya terdapat 5 pulau terbesar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.

Negara RI terdiri dari lebih 100 suku bangsa atau etnis dan lebih dari 300 bahasa daerah dan yang terbesar adalah suku Jawa. Penduduk Negara RI berjumlah 200 juta jiwa dan menganut berbagai agama. Penduduk yang beragama Islam - 80%, sedangkan Kristen, Katolik, Hindu, Budha sekitar 20%.

Kepala Negara RI yang pertama adalah Ir. Soekarno yang memerintah sejak 17 Agustus 1945 s/d 7 Maret 1967 dan yang kedua adalah Jendral (Purn) H.Soeharto yang pertama kali diangkat dengan TAP MPRS No. XXXIII/1967.

Kehidupan warga negara RI diatur dan dijamin oleh UUD 1945, terutama kehidupan dan kebebasan menjalankan ibadah serta memeluk agama berdasarkan keyakinan masing-masing yang tercantum dalam Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Tapi kehidupan dan kerukunan yang harmonis antar penduduk umat beragama akhir-akhir ini terganggu, bahkan cenderung terdapat usaha-usaha berupa pembatasan beribadah, diskriminasi terhadap penduduk yang beragama Kristen - Katolik yang intinya menyangkut pelanggaran hak asasi manusia.

Sejak tahun 1945 s/d 1 Juli 1997 telah ditutup/dirusak/dibakar 374 gedung Gereja dan paling sedikit 20 orang rohaniwan atau pemuka agama Kristen yang telah meninggal.
Keprihatian Umat Kristiani Indonesia

Akhir-akhir ini, sejak permulaan tahun 1996, terutama umat Kristiani Indonesia dihadapkan dengan sederetan peristiwa yang mengejutkan. Selain itu, terdapat usaha-usaha pembatasan ruang gerak, penghasutan, intimidasi dan diskriminasi terhadap golongan masyarakat yang lemah untuk tujuan tertentu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Umat Kristiani disudutkan dan ada yang menuduh mengkhianati Negara dan bangsa Indonesia. Umat Kristiani dianggap tidak mempunyai andil dalam perjuangan bangsa. Dilecehkan bahwa umat Kristiani penganut agama kolonial dan agama orang kafir. Demikian hasutan-hasutan yang selalu dikumandangkan sampai saat ini.

Hal ini menciptakan perasaan tidak sejahtera dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai warga negara yang turut melibatkan diri dalam kehidupan bangsa, turut berjuang dan berbakti mensukseskan pembangunan Negara RI sejak Proklamasi Kemerdekaan RI sampai saat ini, kami merasa prihatin karena bangsa ini sudah berada di tepi jurang perpecahan. Ini masalah yang serius.

Hal-hal seperti yang dikemukakan diatas sungguh tidak sesuai dengan tujuan didirikannya Negara RI yang berdasarkan falsafah Pancasila dan UUD 1945. Hal yang paling mendasar adalah terdapat kemerosotan moral di hampir semua bidang kehidupan masyarakat yang dapat membahayakan, bahkan menghancurkan persatuan, masa depan dan keselamatan bangsa Indonesia.

Benarkah umat Kristiani Indonesia, yang merupakan bagian masyarakat minoritas (Hindu, Budha, Arab, India, Cina dan lain-lain) tidak mempunyai andil dalam pembangunan negara RI, termasuk juga sumbangannya pada umat beragama lain ? Contoh kongkrit yaitu pembangunan Pusat kegiatan Islam di Ujung Pandang, dimana para konglomerat dari golongan masyarakat minoritas yang dikoordinir oleh mantan Pangab Jendral (Purn) M.Yusuf, turut berpartisipasi mengumpulkan dana yang cukup besar sampai mencapai jumlah milyar-an rupiah. Ir. Silaban, seorang arsitektur yang sederhana juga mempunyai andil dan berpartisipasi sebagai seorang perancang bangunan Masjid Istiqal di Jakarta. Pembangunan Masjid Agung di Surabaya yang pernah tertunda karena kesulitan dana, atas inisiatif Wakil Presiden RI dengan cara mengerahkan serta mengumpulkan dana dari para konglomerat yang berasal darigolongan masyarakat minoritas, telah terkumpul uang sejumlah milyar-an rupiah. Dana tersebut dikumpulkan dari para konglomerat antara lain; Ir. NN menyumbang sebesar 1 milyar rupiah, juga konglomerat - konglomerat yang lain yang menyetor antara 0,5 sampai 1 milyar rupiah. Kelompok Jimbaran yang mayoritas terdiri dari kelompok masyarakat golongan minoritas yang di koordinir oleh Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana Prof.Dr. Hayono Suyono telah menyumbangkan 2 % dari penghasilan masing-masing sehingga telah terkumpul sekitar satu trilyun rupiah untuk pembangunan desa-desa miskin, maupun meningkatkan usaha golongan ekonomi lemah. Apakah patut golongan masyarakat minoritas yang tidak berdaya tersebut , terus-menerus menjadi obyek pemerasan dan intimidasi serta tidak mempunyai harkat hidup di Negara Republik Indonesia ?

Penutupan, Perusakan, Pembakaran 374 Gereja Di Indonesia

Dari tahun 1945 s/d 1964 terdapat 2 buah rumah ibadah / Gereja yang dirusak. Sejak 1965 sampai 1 Juli 1997 dalam setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah Gereja yang ditutup, dirusak atau dibakar. Lebih-lebih sejak diberlakukannya SKB 2 Menteri (Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) No. 1 tahun 1969. SKB 2 Menteri ini sebenarnya bertentangan dengan :
  • UUD 1945 Pasal 29 ayat 2
  • Pancasila
  • Tap MPRS nomor XX tahun 1966
  • Dasar-dasar Hak Asasi Manusia
Peristiwa pengrusakan Rumah Ibadah atau Gereja yang tercatat dengan baik oleh kami berawal pada bulan Juni 1967 dan bulan Oktober 1967 yang terjadi di daerah Aceh dan Makassar (Ujung Pandang).

Terjadinya perusakan dan atau pembakaran Gereja sering dikemukakan oleh oknum-oknum maupun tokoh masyarakat sebagai dasar balasan dosa atas peristiwa kerusuhan di Timor-Timur pada permulaan tahun 1996 . Yang sebenarnya terjadi adalah permasalahan antara suku pendatang dan penduduk asli Timor-Timur, yang membawa dampak pada proses marginalisasi masyarakat Timor-Timur dalam segala bidang, yaitu sosial, politik, agama dan budaya. Yang dirusak pada waktu itu satu Surau (Masjid) dan satu Gereja Protestan. Jelas bahwa situasi Timor-Timur tidak dapat dijadikan alasan yang rasional, karena masalah utamanya adalah budaya dan politik, bukan agama.
 
Tabel 1.
  • Periode                    :  1945 - 1954
  • Jumlah                     : 0
  • Rata-Rata Per Tahun :  0
  • Presentase               :  0
  • Periode                    :  1955 - 1964
  • Jumlah                     : 2
  • Rata-Rata Per Tahun :  0
  • Presentase               :  0.2
  • Periode                    :  1965 - 1974
  • Jumlah                     : 46
  • Rata-Rata Per Tahun :  13
  • Presentase               :  4.6
  • Periode                    : 1975 - 1984
  • Jumlah                     : 89
  • Rata-Rata Per Tahun : 24
  • Presentase               : 8.9
  • Periode                    : 1985 - 1994
  • Jumlah                     : 132
  • Rata-Rata Per Tahun : 35
  • Presentase               : 13.2
  • Periode                    : 1995 - 1997
  • Jumlah                     : 105
  • Rata-Rata Per Tahun : 28
  • Presentase               : 52.5
  • Total              : 374
  • Presentase      : 100%
Pada tahun 1965 s/d 1974 (10 tahun) terjadi pengrusakan 46 Gereja atau rata-rata 4,6 gedung Gereja yang dirusak per tahun. Kemudian antara tahun 1975 s/d 1984 (10 tahun) jumlah Gereja yang dirusak meningkat 89 buah atau rata-rata 8,9 per tahun. Demikian pula antara tahun 1985 s/d 1994 (10 tahun) terjadi peningkatan 2 x lipat dari jumlah sebelumnya, yaitu 132 buah atau rata-rata 13,2 per tahun. Dan dalam 2 tahun terakhir, 1995-1997 (2 tahun), terjadi peningkatan yang sangat mencolok dimana jumlah Gereja yang dirusak menjadi 105 buah atau rata-rata 52,5 per tahun (lihat Tabel 1). Bila dihitung dalam kurun waktu 10 tahun yang akan datang (1995 s/d 2004), apakah mungkin bisa terjadi lagi peristiwa perusakan Gereja yang jumlahnya mencapai 300 buah gedung Gereja?

Hingga 1 Juli 1997, telah terjadi penutupan, perusakan dan pembakaran 374 Gereja. Perusakan tersebut diatas, belum termasuk perusakan rumah ibadah agama lain seperti Vihara maupun fasilitas Pemerintah, swasta dan fasilitas umum.
 

Tabel 2.

  • Propinsi             : Jawa Timur
  • Jumlah             :  104
  • Presentase        :  27
  • Propinsi             : Jawa Barat
  • Jumlah             :  82
  • Presentase        :  22
  • Propinsi             : Jawa Tengah
  • Jumlah             :  47
  • Presentase        :  13
  • Propinsi             : Sulawesi Selatan
  • Jumlah             :  36
  • Presentase        : 11
  • Propinsi             : Kalimantan
  • Jumlah             :  30
  • Presentase        : 5
  • Propinsi             : D.K.I Jakarta
  • Jumlah             :  21
  • Presentase        : 5
  • Propinsi             : Sumatera Utara dan Aceh
  • Jumlah             :  12
  • Presentase        :  4
  • Propinsi             : D.I Yogyakarta
  • Jumlah             :  10
  • Presentase        : 3
  • Propinsi             : Sumatera Selatan dan Lampung
  • Jumlah             :  36
  • Presentase        :  11
  • Propinsi             : Bali
  • Jumlah             :  5
  • Presentase        :  2
  • Propinsi             : Sulawesi Utara
  • Jumlah             :  2
  • Presentase        :  1
  • Propinsi             : daerah lain
  • Jumlah             :  18
  • Presentase        : 5


Sejak 1996 terjadi beberapa peristiwa yang sangat mencolok :

  • Peristiwa Kendari - Sulawesi Tenggara, selama 1996 enam gereja dirusak (data menyusul)
  • Peristiwa Siantan - Kalimantan Barat, 30 Maret 1996, dimana Gereja Misi Injili di desa Peniti, Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak dirusak dan dibakar. 
  • Peristiwa Surabaya (Minggu Kelabu), 9 Juni 1996, dimana 10 gedung Gereja dihancurkan di daerah Sidotopo oleh massa sebanyak 3000 orang disertai perampokan dan pelecehan sexual. Gereja yang dirusak adalah :
    • Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) , Jl.Sidotopo Indah Wetan II/26
    • Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) "Pogot", Jl. Sidotopo Wetan Indah II/62-64.
    • Pos Pelayanan "SiloM" GPIB "Cahaya Kasih", Jl. Bulak Jaya. Gereja Bethel Indonesia (GBI) Firman Hayat, Jl. Tenggumung Baru Selatan 51.
    • Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Jatisrono Tengah 11.
    • Gereja Kemah Injil Indonesia Kalvari, Jl. Bulak Banteng Madya 4.
    • Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT), Jl. Wonosari Wetan Baru Gg.Sekolahan 22.
    • Persekutuan Doa Gereja Bethel Indonesia (GBI), Jl. Bulak Banteng Wetan IV/2-4.
    • Gereja Sidang Jemaat Pentakosta Di Indonesia, Jl. Tenggumung Karya III/54.
    • Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Sidotopo Wetan Indah.
  • Peristiwa Wates, Kediri-Jawa Timur, 14 Juni 1996, dimana Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) diserang dan dirusak massa + 2.500 orang oknum pada jam 02:00 dini hari.
  • Peristiwa Pare, Kediri-Jawa Timur, 25 Juni 1996, dimana Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) pada jam 12:00 siang dirusak dan perabotannya dikeluarkan dari gereja serta dibakar dihalaman gereja oleh massa + 200 orang oknum.
  • Peristiwa Bekasi - Jawa Barat, 17 Juli 1996 di mana gereja katolik dibakar oleh masa yang tidak dikenal. 
  • Peristiwa Situbondo-Jawa Timur (Kamis Hitam), 10 Oktober 1996, dimana 24 gedung Gereja dirusak dan dibakar oleh massa sebanyak 3000 orang. peristiwa ini sangat luar biasa menyedihkan karena seorang Pendeta dari Gereja Pentakosta meninggal dunia terbakar didalam gedung Gereja beserta keluarga dan seorang Penginjil. Terdapat 5 orang meninggal dunia, yaitu Pdt. Ishak Christian, Ribka Lena Christian (istri), Elizabeth Christian (anak), Nova Samuel (keponakan) dan Rita (Penginjil). Gereja yang dirusak/dibakar adalah:
    • Situbondo:
      • Gereja Bethel Indonesia/GBI Bukit Sion (di bakar)
      • Gereja Pantekosta di Indonesia /GPdI (di hancurkan)
      • Gereja Bethel Injili Sepenuh/GBIS (di bakar)
      • Gereja Sidang Jemaat Pantekosta/GSJP (di bakar)
      • Gereja Kristen Jawi Wetan/GKJW (di bakar)
      • Gereja Pantekosta Pusat Surabaya/GPPS (di bakar)
      • Gereja Protestan Indonesia Barat/GPIB (dihancurkan)
      • Gereja Katolik (di bakar), Panarukan
      • Gereja Katolik (dibakar)
      • Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI (di bakar), Wonorejo
      • Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI (di rusak)
      • Gereja Kristen Jawi Wetan/GKJW (di bakar)
      • Gereja Bethel Tabernakel/GBT (di bakar),
      • Gereja Katolik (di rusak), Asembagus
      • Gereja Bethel Injili Sepenuh/GBIS (di bakar)
      • Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI (di rusak)
      • Gereja Katolik (di bakar), Besuki
      • Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI (dirusak)
      • Gereja Bethel Injili Sepenuh/GBIS (dirusak)
      • Gereja Kristen Jawi Wetan/GKJW (dirusak)
      • Gereja Katolik (di rusak), Ranurejo
      • Gereja Kristen Jawi Wetan/GKJW (Induk) di bakar
      • Gereja Kristen Jawi Wetan/GKJW (cabang) di bakar
      • Gereja Kristus Tuhan /GKT (di bakar)
    • Peristiwa Tasikmalaya - Jawa Barat (Kamis Hitam), 26 Desember 1996 dimana 15 Gereja dirusak dan dibakar serta 4 orang meninggal dunia. Gereja yang dirusak/dibakar adalah:
      • GKI Tasikmalaya,
      • Gereja Pentakosta di Indonesia,
      • Gereja Bethel Indonesia (GBI),
      • Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Eben Haezer,
      • Gereja Kristen Pasunda,
      • GKI Sion,
      • Gereja Katolik " Hati Kudus Yesus",
      • HKBP (Huria Kristen Batak Protestan),
      • Gereja Yesus Sejati,
      • Gereja Kristen Immanuel,
      • Gereja Bethel Tabernakel,
      • Gereja Kerasulan Baru,
      • Gereja Bethel Tabernakel,
      • Gereja Kristen Pasundan,
      • Gereja Kristen Palemanggung.
    • Peristiwa Rengasdengklok-Jawa Barat (50 km dari Jakarta), 30 Januari 1997, dimana 5 Gereja dirusak, adalah :
    • Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Barat
    • Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Rengasdengklok
    • Gereja Bethel Tabernakel (GBT),
    • Gereja Bethel Tabernakel (GBT) cabang,
    • Peristiwa Ambon, 10 Februari 1997, dimana sekolah TK, SMP, SMU Katolik dibakar dengan harapan gedung Gereja disampingnya ikut terbakar. Tetapi untung cepat diselamatkan oleh penduduk sekitarnya sehingga gedung Gereja tersebut tidak terbakar. Pelakunya 6 orang oknum.
    • Peristiwa Garut-Jawa Barat, 22 Februari 1997, dimana Gereja Kristen Pasundan (GKP) di desa Cimahi Kecamatan Cisewu - Garut habis dibakar.
    • Peristiwa Garut - Jawa Barat, 6 Maret 1997, dimana Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) didesa Purbayani, Garut dirusak rata dengan tanah.
    • Peristiwa Surabaya , 13 maret 1997, dimana Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jl. Ngagel Surabaya dilempari batu oleh oknum-oknum pelajar STM.
    • Peristiwa Surabaya, 28 - 30 Maret 1997, dimana Gereja Bethel Indonesia (GBI) Petra di jalan Kalibutuh dilempari batu oleh oknum-oknum melalui gerbong kereta api. 8 orang oknum telah ditangkap polisi.
    • Peristiwa Ngawi, 28 Maret 1997, dimana Gereja Bethel Indonesia (GBI) Immanuel - Pos PI, di desa Kedung Gadul, Kecamatan Widodaren - Ngawi, dirusak.
    • Peristiwa Wonosobo, Jawa Tengah, 9 Maret 1997, dimana 2 buah Gereja Kristen Jawa (GKJ) dan sebuah sekolah Katolik di lempari Batu oleh oknum-oknum yang baru pulang mengikuti pengajian umum pada malam hari.
    • Peristiwa Surabaya, Jawa Timur, 12 April 1997, dimana Gereja Bethel Indonesia di jalan Sulung Surabaya dan Gereja Katolik dijalan Kepanjen dilempari batu oleh sekelompok pemuda tidak dikenal pada jam 19:00.
    • Peristiwa Sumenep-Madura, 15 April 1997, dimana Gereja Sidang Persekutuan Injili Indonesia (GSPII) ditutup oleh surat perintah Bupati Sumenep.
    • Peristiwa Bojonegoro, 12 Mei 1997, dimana Pos Gereja Pantekosta di Indonesia desa Mojopangi, Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Kedung Adem.
    • Peristiwa Tuban-Jawa Timur, 15 Mei 1997, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban dibakar oleh massa.
    • Peristiwa Manado-Sulawesi Utara, 22 Mei 1997, dimana Gereja Masehi Injili Minahasa Eklesia dekat jembatan Megawati dirusak dan Gereja Pantekosta di Indonesia Tominting Jl. Soputaro juga dirusak.
    • Peristiwa Bogor, Jawa Barat, 22 Mei 1997, dimana Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Batu Tulis Bogor dirusak.
    • Peristiwa 23 Mei 1997 terjadi perusakan dan atau pembakaran di Banjarmasin, Pasuruan, Surabaya, Jakarta-Tanggerang, Bekasi, Sampang, Kudus dan Pamekasan. Gereja yang dirusak /dibakar adalah : 
      • Banjarmasin :
        • Katedral Kudus/ Sasana Sehati, Jalan Lambung Mangkurat;
        • Gereja Santa Maria Kelayan, Jalan Rantauan Timur;
        • Gereja Hati Kudus Yesus, Jalan Veteran Merpati;
        • Huria Kristen Batak Protestan Resort Banjarmasin, Jl.Pangeran Samudra 83;
        • Gereja Jemaat GKE Eben Ezer, Jalan S. Parman 96;
        • Gereja Kebangunan Kalam Allah, Jalan Veteran 85;
        • Gereja Yesus Sejati, Jalan A.I.S Nasution;
        • Gereja Pantekosta di Indonesia, Jalan Veteran 35;
        • Gereja Bethel Indonesia Lentani, Jalan Veteran;
        • Gereja Terang Kristus, Jalan Lambung Mangkurat;
        • Gereja Bethel Indonesia Jemaat Siloan, Jalan R. K. Ilir;
        • Gereja Protestan di Indonesia Barat Jemmat Banjarmasin, Jalan Gatot Subroto;
        • GPPG Jemaat Banjarmasin, Jalan Lab. SMP 6. 
      • Pasuruan :
        • Gereja Pantekosta Sioan;
        • Gereja Bethel Indonesia;
        • Gereja Protestan di Indonesia Barat;
        • Gereja Katolik;
        • Gereja Bethel Indonesia, Jalan Halmahera.
      • Surabaya :
        • Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Sepanjang,
        • Gereja Bethel Injil Sepenuh Pandaan;
      • Jakarta-Tanggerang :
        • Gereja Katolik;
        • Gereja Bethel Indonesia;
        • Gereja Bethel Injil Sepenuh Rawa Kemiri.
      • Kudus Jateng :
        • Gereja Kristen Muria Indonesia, Tanjung Karang.
      • Pamekasan :
        • Gereja Katolik, Jalan Jokotole.
      • Sampang-Madura :
        • Gereja Pantekosta di Indonesia Jl. Panglima Sudirman No 9.
      • Cikarang Jabar :
        • Gereja YKP,
        • GPdI,
        • GBI. Tanggerang
      • Jabar :
        • Gereja Katolik,
        • GPdI,
        • GBI. Lemah Abang
      • Jabar :
        • GBIS. Kadipaten
      • Jabar :
        • GKP. Kelurahan
      • Cideras :
        • GKP
  • Peristiwa Bangkalan-Madura, 14 Juni 1997 dimana Gereja Bethel Indonesia, Gereja Pantekosta di Indonesia dirusak dan dibakar, dan Gereja Katolik saat kampanye dilempari batu.
Menurut Sebaran daerah terjadinya kerusuhan tersebut, propinsi Jawa Timur mendudki tempat teratas. Jumlah Gereja yang rusak, yaitu sebanyak 104 (28%), kemudian menyusul Jawa Barat 82 (22%), Jawa Tengah 47 (11%), Sulawesi Selatan 36(11%) dan seterusnya. (Lihat Tabel 2 dan Gambar 3).

Sedangkan perkembangan perusakan gedung Gereja dalam 4 bulan terakhir, yaitu bulan Maret sampai dengan akhir Juni 1997 menunjukkan angka yang terus meningkat. Per 1 April 1997 tercatat 327 gedung Gereja yang dirusak massa, jumlah ini terus meningkat pada bulan berikutnya: per 1 Mei 1997 bertambah menjadi 330 gedung Gereja yang dirusak massa, per 1 Juni 1997 tercatat 358 gedung Gereja yang dirusak massa dan terakhir pada tanggal 1 Juli 1997 jumlah keseluruhan gedung Gereja yang rusak sebanyak 374 buah (lihat gambar 4). Adapun nama-nama Gereja yang dirusak dapat kita lihat pada laporan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama tahun 1997 pada halaman 7 dan 8.

Banyak orang bertanya, siapakah sebenarnya kelompok perusuh itu ? Dan siapakah sebenarnya otak penggerak kerusuhan-kerusuhan ? Seperti yang ditulis di surat-surat kabar serta isu yang beredar dimasyarakat, sebagai pemicu atau penyebab perusakan gedung Gereja tersebut adalah :
  • kebencian pada warga negara keturunan Cina
  • kebencian pada umat Kristiani
  • kesenjangan sosial dan ekonomi
  • alasan politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. 
Menganalisis fakta dilapangan dan cara perusakan gedung gereja tersebut, maka alasan-alasan yang dikemukakan diatas terkesan mengada-ada dan tidak rasional, bahkan Pangab Jendral M. Faisal Tanjung (Kompas, 8 Januari 1997) menyatakan adanya aktor intelektual dibalik peristiwa- peristiwa perusakan tersebut diatas. Namun sampai sekarang belum ada pengadilan yang membuktikan pernyataan Pangab tersebut. Selain itu K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) menyatakan bahwa peristiwa kerusuhan yang terjadi selama ini didanai sebesar 300 milyar rupiah dan uang tersebut ditanam disalah satu bursa saham di Jakarta (Jawa Pos dan Surya 11 Juni 1997).
Penutup

Menyikapi peristiwa-peristiwa diatas dimana 374 rumah ibadah umat kristiani/gereja dibakar, dirusak dan diresolusi untuk ditutup disertai pula korban jiwa paling sedikit 20 orang hamba Tuhan/pemuka agama kristiani sebagai martir sejak tahun 1945 sampai dengan 1 Juli 1997, maka kita perlu mawas diri dan dengan rendah hati serta tulus kita harus mengakui bahwa umat kristiani Indonesia masih mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan :
  • Didalam kehidupan sesama anggota tubuh Kristus, umat kristiani Indonesia terpecah belah dalam beberapa denominasi dan tidak bersatu didalam satu kesatuan visi dan misi.
  • Didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, umat kristiani Indonesia kadang-kadang-kadang hidup eksklusif, arogan, memetingkan diri sendiri, tidak mau berkorban, melayani dan memberi sesuatu yang terbaik sesama warga negara yang masih kekurangan.
  • Didalam kehidupan antar umat beragama dan hidup keagamaan, umat kristiani Indonesia kadang-kadang kurang peka dan kurang terbuka.
Marilah kita secara sadar, betul-betul sadar mau belajar dan terus belajar pada kelemahan dan kekurangan-kekurangan tersebut diatas serta mau memperbaikinya.

Marilah kita umat Indonesia Kristiani kembali bersatu didalam satu visi dan misi.

Marilah kita umat Indonesia Kristiani berjuang dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan serta senantiasa mengusahakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Marilah kita umat Indonesia Kristiani berdoa agar Tuhan membimbing kita dalam perilaku hidup berbangsa dan bernegara sesuai dengan teladan sang Gembala Agung Yesus Kristus :
  • Saling mengasihi sesama manusia (Matius 22:39),
  • Berbuat baik kepada semua orang (Galatia 6 : 10),
  • Ramah terhadap orang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni (Efesus 4 : 32).
Marilah kita umat Indonesia Kristiani bangkit dari rasa takut karena mengalami intimidasi, penghinaan dan penindasan serta tetap teguh dan percaya akan kebenaran dan janji Tuhan.

Hai umat Indonesia Kristiani janganlah engkau membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi balaslah kejahatan dengan kebaikan (Roma 12 : 21). Jangan Engkau membalas perbuatan orang-orang itu yang membenci Dia tetapi Tuhan sendirilah (Ulangan 7 : 10, Mazmur 99 : 8, Roma 12 : 19). Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk (Roma 12:14)