•  
  • creative gbis kepunton website team
Beranda » ARTIKEL GBIS » INTEGRITAS
Senin, 03 Oktober 2016 - 09:00:32 WIB
INTEGRITAS
Diposting oleh : Administrator
Kategori: ARTIKEL GBIS - Dibaca: 286 kali

INTEGRITAS
 
 
 
Daniel adalah salah satu tokoh Alkitab yang selalu diingat karena peristiwa gua singa, tetapi ada suatu hal yang lebih dalam yang kita dapat pelajari dan teladani yaitu INTEGRITASNYA. Integritasnya merembes keluar dari pori-pori hidupnya.

Integritas adalah sikap-mutu-karkater pribadi yang utuh dimana ia tetap orang yang sama, baik ketika dilihat orang maupun ketika tidak ada yang mengamatinya sehingga memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Integritas adalah siapa kita yang sebenarnya. Integritas adalah sistem internal yang menentukan respon kita terhadap kegagalan, perlakuan tidak pantas dan penderitaan. Integritas meliputi setiap segi kehidupan kita, integritas lebih mengenai siapa kita (diri kita) daripada sekedar apa yang kita lakukan (perbuatan kita)

Integritas membuat orang yang memilikinya menjadi berbeda. Daniel melebihi para pejabat tinggi dan para waktu raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa, dan raja bermaksud menempatkannya atas seluruh kerajaannya (Daniel 6:4). Jika kita memutuskan untuk menjadi orang yang berintegritas, kita pasti akan diuji setiap saat, baik di tempat kerja-disekolah-dirumah-diluar rumah bahkan digereja baik sebagai jemaat atau terlibat dalam pelayanan. Daniel terus diamat-amati oleh musuh-musuhnya, mereka menguji integritasnya. Para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau suatu kesalahan padanya (Daniel 6:5). Daniel diuji dan ia lulus.

Orang yang beritegritas bagaikan sebuah phon yang besar-kokoh-tinggi dan akan menjadi sasaran sambaran petir jika hujan lebat. Sesudah itu raja memebri perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkannya ke dalam gua singa (Daniel 6:17). Daniel berada di gua singa bukan karena ia telah melakukan hal yang salah tetapi karena ia melakukan hal yang benar. Integritas yang alkitabiah lebih bersumber dari sifat Allah ketimbang pola-pola tingkah laku manusia. Ketika Daniel menunjukkan integritas, ia semata-mata sedang merfleksikan citra Allah.

Bagaimana integritas dibentuk?

Ada 3 tindakan dalam hidup Daniel yang telah membuatnya bersinar terang.

1. BERDOA KEPADA ALLAH SECARA KONSISTEN
Dalam Daniel 6:11) dituliskan tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Daniel berdoa tidak baru keadaan panik, ia telah membuat doa menjadi sebuah kebiasaan, doa adalah prioritasnya bukan pelarian terakhirnya.

2. MELAYANI ALLAH DENGAN TEKUN
Dalam Daniel 6;17 dituliskan berbicaralah raja kepada Daniel, "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" Daniel tidak kompromi dengan pendiriannya meskipun ada ancaman dengan pendiriannya. Tugas utama kita sesungguhnya bukanlah mencari keselamatan tetapi mencari Tuhan karena begitu kita menemukan Tuhan kita Yesus Kristus, kita akan mendapatkan keselamatan itu.

3. MEMPERCAYAI ALLAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH
Dalam Daniel 6:24 dituliskan maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya. Apapun yang terjadi, Daniel tetap percaya kepada Allah. Inilah integritas, yang tetap memilih tetap setia dan menolak kompromi. Ia memilih untuk percaya kepada Allah apapun resikonya. Daniel memiliki pengaruh yang kelihatan dalam hidup raja seperti dalam Daniel 6:19 dituliskan "Lalu pergilah raja ke istanya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu, ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur dan ia tidak dapat tidur". Pria dan wanita yang berintegritas akan membuat dirinya berbeda karena hidup mereka yang tulus dan utuh. Orang akan melihat kehidupan yang dihidupi dengan cara yang berbeda.

Jadi kalau saat ini kita masih berkutat dengan hidup untuk kepentingan dan kesenangan diri, yang semuanya itu kita anggap menyenangkan dan memberikan kebahagiaan bagi kita, maka hidup kita masih menjadi milik kita sendiri, dan bukan milik Tuhan.

Kalau kita katakan hidup kita milik Tuhan, harus sepenuhnya sudah diserahkan kepada Tuhan. Dan kita hidup sepenuhnya hanya untuk Tuhan. Hidup sepenuhnya untuk Tuhan, berarti apapun yang kita lakukan, baik di dalam perbuatan, perkataan, sikap hati, pikiran dan perasaan, semuanya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan, tentu tujuannya adalah supaya semua yang ia lakukan, apapun itu, menyukakan dan memuaskan hati dan perasaan Tuhan.

Inilah yang harus kita perkarakan dengan benar dihadapan Tuhan. Selama ini kalau mau jujur, kita tidak pernah menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, sebaliknya yang kita mau adalah Tuhan-lah yang memberikan hidup-NYA untuk kita. Dan memang tanpa kita sadari Tuhan sudah terlebih dahulu menyerahkan hidup-nYA untuk kita.

Tiga puluh tiga setengah tahun, Ia rela mengosongkan diri dan menjadi manusia, sma dengan kita, Ia rela menderita bagi kita, sampai pada akhirnya mati di atas kayu salib, supaya bisa menghapuskan semua dosa kita.

Jadi semua dosa yang kita lakukan, baik yang sudah kita lakukan, atau yang sedang kita lakukan, atau yang nantinya bisa kita lakukan, semua itu telah dihapuskan.

Yang menjadi persoalannya sekarang adalah, watak dan karakter dosa yang ada di dalam diri kita, itulah yang harus kita tanggulangi. Selama ini kan kita berlaku masa bodoh dengan hal ini, dan kita cenderung hidup suka-suka kita sendiri.

Walaupun Tuhan sudah lebih dahulu menyerahkan hidup-NYA untuk kita, tetapi seringkali yang kita tuntut lebih dari itu. Kita mau supaya Tuhan melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan, supaya kita bisa memiliki apa yang dinamakan kenyamanan hidup. Cara hidup dengan pikiran yang seperti inilah yang sebenarnya menyesatkan kita.

Saudaraku, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, bukan berarti kita harus tinggalkan pekerjaan, usaha, bisnis, atau apapun pekerjaan apapun yang kita lakukan, lalu kita melayani Tuhan dengan menjadi seorang pendeta. Bukan seperti itu.

Sebab kalau hanya untuk melayani Tuhan, maka apapun yang kita miliki, waktu, uang, tenaga, pikiran, dan lain sebagainya, kita bisa mempergunakan itu untuk melayani Tuhan. Tetapi kalau watak karakter dosa yang melekat pada kita, tidak kita tanggulangi dengan serius, maka semua yang kita lakukan sia-sia.

Jadi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, tujuannya supaya kita bisa masuk di dalam proses didikan Tuhan, belajar mengerti akan kehendak Tuhan, supaya kita tahu mana yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Proses inilah yang dimaksudkan Firman Tuhan, sebagai proses mengalami pembaharuan.

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
(Roma 12:1-2)

Proses inilah yang mebuat kita mampu untuk memerangi watak dan karakter dosa yang masih melekat pada kita. Tanpa berjuang untuk memerangi watak dan karakter dosa yang masih melekat dalam diri kita, maka kita tidak akan mungkin bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Bagi seorang hamba Tuhan atau pendeta seperti saya dan hamba-hamba Tuhan yang lainnya, seringkali bisa tertipu dengan perasaan sendiri. Dimana, seringkali sebagai hamba Tuhan, saya atau pendeta lainnya bisa berpikir dan merasa bahwa sudah menyerahkan diri sepenuhnya untuk Tuhan, padahal belum. Dan ini bisa menyesatkan.

Jadi kalau kita tidak menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa ada watak dan karakter dosa kita yang harus ditanggulangi, maka kita akan kebablasan dalam menjalankan hidup ini, dengan pola pemikiran yang salah, dimana kita akan berpikir bahwa Tuhan Yesus sudah menanggung dan menyelesaikan semuanya, maka secara otomatis kita pasti masuk sorga.

Kalau watak dan karakter dosa kita, tidak kita sadari dan tidak kita tanggulangi mulai sekarang, maka hal itu akan membuat kita semakin terikat dengan dunia, bersahabat dengan dunia, semakin dalam jatuh cinta kepada dunia, dan pada akhirnya memiliki percintaan dengan dunia. Lalu kalau kita periksa Firman Tuhan, maka Firman Tuhan katakan, persahabatn dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah.

"Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."
(Yakobus 4:4)


Ada satu hal yang harus kita sadari yaitu, jika kita terus mengikatkan diri dalam persahabatan dengan dunia, maka pada titik tertentu akan sulit untuk kembali kepada Tuhan, bahkan dapat dikatakan tidak bisa lagi kembali kepada Tuhan. Jadi setiap orang yang menyadari bahwa hidupnya adalah milik Tuhan, itu artinya ia harus mengikuti gaya hidupnya Tuhan. Harus ada komitmen yang kita buat, artinya kalau sudah memiliki komitmen untuk mengikut Tuhan, maka resikonya adalah tidak boleh berbuat salah lagi.

Kalau masih salah, minta ampun, salah lagi minta ampun lagi, sampai pada titik tertentu kalau kita berbuat salah, maka kita akan merasa hati Tuhan begitu terluka, akibat dari cara hidup kita yang tidak pernah berubah. Itlah kenapa saya katakan bahwa ini perjuangan berat. Kalu kita berkata, kita percaya kepada Tuhan Yesus, maka kita harus hidup suci. Harus menjaga kesuciandan kesalehan hidup. Dan kita harus menutup pintu terhadap semua kemungkinan hidup dalam dosa.

Jadi bagi orang-orang yang sudah sampai pada titik sudah tidak bisa lagi kembali kepada Tuhan, akibat dari pengaruh dunia, maka berbicara tentang Tuhan, tentang kesucian hidup, tentang kesalehan hidup, orang-orang seperti ini sudah tidak bisa mengerti lagi. Oleh sebab itu kita tidak boleh merasa telah memberi diri kepada Tuhan, hanya karena kita terlibat dalam pelayanan di gereja, atau rajin ibadah setiap hari minggu, dan aktif melakukan berbagai kegiatan rohani lainnya.

Memberi diri kepada Tuhan itu, berarti menundukkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Menundukkan jiwa kita kepada Tuhan. Ingat di dalam jiwa itu ada; pikiran, perasaan, kehendak.

Disini kita harus menyadari bahwa kehendak selalu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan. Jadi kalau pikirannya rusak, perasaannya rusak, maka secara otomatis kehendaknya juga pasti rusak. Itulah kenapa pikiran kita harus selalu dikuduskan, perasaan kita juga harus dikuduskan (Roma 12:2).
Supaya kita bisa menjaga pikiran dan perasaan tetap kudus, maka tidak ada cara lain selain kita harus mengenakan pikiran dan perasaan Kristus.

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"
(Filipi 2:5)


Ini artinya, kalau kita tidak berusaha untuk mengenkan pikiran dan perasaan Kristus di dalam hidup kita, maka hidup kita tidak mungkin kudus dan berkenan kepada Allah Bapa di sorga. Karena Tuhan Yesus dalam seluruh hidupnya, mengenakan sebuah pola hidup yang berkenan kepada Bapa-NYA, dan pola hidup itulah yang harus kita kenakan. dan itulah Injil yang murni.

Jadi Injil itu bukan sekedar percaya Tuhan Yesus selamat, Itu judulnya, tetapi aplikasinya yaitu gaya hidup Tuhan Yesus sendiri, harus nyata dalam seluruh gerak hidup kita. Karen gaya hidup Tuhan Yesus itu mengandung kebenaran-kebenarn yang merubah cara berpikir kita. Jadi untuk mencapai standar hidup supaya tetap suci, kudus, dan berkenan, maka kita harus berjuan. Perjuangan kita harus sampai kepada titik yang dinamakan kesempurnaan. Ukuran kesempurnaan harus sesuai dengan takaran atau level dimana kita mengerti akan kebenaran Firman Tuhan.

Disini kita harus mengerti bahwa, pikiran akan selalu mempengaruhi perasaan, pikiran akan membuat orang merasa bahagia, senang, marah, benci, dendam, semuanya terpusat pada pikiran.

Oleh sebab itu jika pikiran seseorang sudah salah, maka ia akan melihat bahwa dunia ini begitu indah, dan bisa membahagiakan hidupnya, padahal Firman Tuhan katakan, bersahabat dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah.

Tetapi kalu pikiran seseorang benar, mak ia tahu bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang bisa membahagiakan hidupnya, walaupun bukan dengan harta kekayaan dan kelimpahan hidup. Sebab orang yang memiliki pikiran Tuhan, ia tidak akan berpikir untuk kesenangan dirinya, tetapi yang ia pikirkan adalah bagaimana hidupnya bisa menyukakan dan menyenangkan hati dan perasaan Tuhan.

Ini adalah ciri dari orang-orang yang menyadari bahwa segenap hidupnya adalah milik Tuhan. Bila kita memiliki pikiran yang salah yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan, maka hal itu akan mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan. Orang tidak akan mungkin bisa membangun hubungan persekutuan dengan Tuhan secara benar, kalu ia sudah terlanjur memilki pikiran yang salah.

Jadi setiap kita harus sungguh-sungguh menyadari akan hal ini, bahwa sepenuhnay hidup kita milik Tuhan, apapun keadaan hidup kita, apa yang kita miliki, pangkat, jabta, kekayaan, kemewahan, anak-anak yang cantik-cantik, semuanya itu milik Tuhan dan harus dipergunakan untuk hormat dan kemuliaan Tuhan, supaya hidup kita bisa memuaskan hati dan perasaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.